DINAMIKA DAERAH PEMERINTAHAN POLITIK

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sulut: MEA bisa jadi ancaman Sulut

Kepala Dinas koperasi dan UMKM Sulut: MEA bisa jadi ancaman Sulut
Kepala Dinas koperasi dan UMKM Sulut Ir Rene Hosang

inimanado.com, Amurang – Indonesia dan sembilan negara lainnya tengah bersiap menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dampak terciptanya MEA adalah pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja. Terpaan pasar bebas itulah yang menimbulkan kecemasan sejumlah pihak. Kepala Dinas Koperasi Sulut, Rene Hosang menyebut MEA bisa menjadi ancaman bagi Sulut dan daerah lainnya. “Jika tidak siap, MEA bisa jadi proses pemiskinan,” kata Rene saat bertatap muka dengan sejumlah legislator Sulut. Namun, kekhawatiran tersebut menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Luctor Tapiheru dan Kepala Bank Area Mandiri Manado, Hotman Nainggolan saat hadir dalam acara Coffee Time Komunitas Pers Manado (KPM), Selasa (12/5) di RM Blue Ocean perlu dibuang jauh-jauh. “Tujuan dibentuknya MEA untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah dibidang ekonomi antarnegara ASEAN. Memang bisa langsung drop kalau tak siap. Tapi, kalau program-program disusun dengan baik, saya yakin bisa kita mewujudkan harapan itu,” kata Luctor.
Dia mengakui akan ada serbuan produk luar masuk ke Indonesia. Beberapa profesi seperti dokter dan guru juga bisa bekerja di Indonesia. Namun, itu tidak masalah asal kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) siap. “SDM andal itu menjadi kunci sukses menghadapi persaingan saat pemberlakuan MEA,” ucapnya. Luctor menilai kualitas SDM Indonesia punya kompetensi yang bisa diandalkan. “Di beberapa negara, tenaga kerja kita juga dipakai. Itu menandakan SDM punya daya saing,” ucapnya. Dia juga berharap adanya peningkatan etos kerja tenaga kerja Indonesia. “Soal etos kerja ini, Sulut termasuk yang rendah. Ini sesuai hasil survei salah satu perguruan tinggi Indonesia,” ungkapnya. Dia mencontohkan tenaga kerja Sulut kadang tak full kerja. “Kerja misalnya 8 jam sehari. Namun, baru satu jam dia sudah istrahat minum kopi. Setelah itu kerja sesaat, kemudian makan siang. Belum selesai, dia sudah pulang duluan. Ini yang harus diubah karena dengan daerah lain saja, Sulut kalah. Apalagi dibanding dengan negara lain,” ucapnya. Jika etos kerja baik, Luctor percaya tenaga kerja Indonesia bisa survive. ” Masalah etos kerja perlu menjadi perhatian bersama,” ucapnya.

Terciptanya SDM andal dan keseriusan dalam bekerja juga menjadi titik perhatian Hotman Nainggolan. ” Pemberlakuan MEA memang menjadi kekhawatiran sejumlah kalangan. Tapi, saya kira tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau SDM kita, etos kerja yang baik, kita dapat menjadikan ancaman itu sebagai peluang,” Hotman menguraikan. Dalam diskusi yang dipandu langsung Ketua KPM Alexander Mellese itu, Hotman menguraikan sejarah dibentuknya MEA. “Pembentukan MEA berawal dari kesepakatan para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ASEAN serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Modal asing dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan warga ASEAN,” dia memaparkan. Selanjutnya menurut Hotman, petinggi ASEAN pada Pada KTT di Bali Oktober 2003 mendeklarasikan pembentukan MEA. ” Saat itu disepakati MEA akan diberlakukan akhir Desember 2015,” ujarnya.

Disebutkan Hotman, ada beberapa dampak dari konsekuensi MEA, yakni dampak aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas. “Kalau SDM andal dan siap, tak perlu ada kekhawatiran. Saya setuju kalau pelatihan-pelatihan perlu diadakan untuk meningkatkan kualitas SDM,” ucapnya. Ditanya peserta soal kesiapan Perbankan menyambut MEA, baik Luctor maupun Hotman mengatakan tak ada masalah. “Untuk Perbankan baru diberlakukan pada 2020. Namun, kalaupun akhir Desember nanti sudah dimulai, Perbankan kita siap,” ujar Luctor. Coffee time yang berlangsung penuh keakraban itu manfaatkan 30 wartawan untuk menanyakan pemberian kredit kepada UMKM. “Saya menangkap kesan kalau Perbankan membuat ketergantungan pada masyarakat untuk terus mengambil kredit,” kata Mejkel Lela. Tapi, pernyataan itu disanggah Luctor dan Hotman. “Saya kira tidak seperti itu. Justru jangan sampai ada masyarakat yang kecanduan. Perbankan dalam memberikan kredit melakukan prinsip kehati-hatian. Seperti gula kalau dianggap memberi keuntungan, pasti akan dikucurkan,” ujar Luctor. (Yudi)